Betapa Sesatnya Kata Sesat
Saya rasa, tidak ada satu pun kata yang paling sesat selain kata sesat itu sendiri.
Ya, saya serius soal ini.
Sungguh… BETAPA SESATNYA KATA SESAT.

Ada orang lain yang berbeda pendapat, pandangan, maupun pemahaman dengan Anda, lantas dengan mudahnya Anda ‘mengetuk palu’ (memvonis) bahwa orang tersebut telah sesat.

Apakah Anda sudah berada di jalan yang tepat, sehingga berhak bertindak demikian?
Jangan-jangan… ternyata Anda baru hanya sekedar merasa. Kalau sekedar merasa, itu berarti belum apa-apa. Namanya juga cuma merasa… hehehehe.

untuk lebih mengenal kata ‘merasa’, silahkan Anda baca kembali salah satu tulisan yang saya posting pada tahun lalu, yaitu

(klik pada kotak preview di atas)


Ketika berbicara mengenai kata ‘sesat’, maka kita akan berhadapan dengan sebuah kata, yaitu ‘arah’.

Saya berikan contoh cerita…
Pada suatu hari yang cerah, Sang Kancil pergi ke hutan…
Uppss, maaf pembaca sekalian, saya khilaf, ini bukan dongeng ya… hihihihi… Sorry lho…
Begini maksud saya…
Pada suatu hari, Anda mau pergi ke kantor kelurahan. Dari rumah Anda menuju ke sana, harus menempuh jalan lurus sejauh 500 m, lalu belok kiri, kemudian belok ke kiri lagi, barulah Anda sampai ke tujuan. Akan tetapi, jika setelah tikungan belok kiri yang pertama tadi terus Anda malah lanjut belok ke kanan, dapat dipastikan Anda akan gagal tiba di tujuan. Rute perjalanan Anda keliru… Salah arah… Anda telah tersesat.

Jadi, kesimpulannya begini…

Sesat itu adalah… keliru dalam mengarah ke tujuan.

Lalu bagaimana jika ternyata, untuk menuju ke kantor kelurahan tersebut, bisa juga dengan cara belok ke kanan?
Hahaha…
Jangan berpikir terlalu ribet ya Mas, Mbak, Om, Tante, Bapak, Ibu, Tuan, dan Nyonya sekalian… Silahkan Anda baca lagi kesimpulan saya tadi. It’s all about the destination… Soal tujuan. Anda mau belok kiri ok, belok kanan pun jadi. Silahkan… yang penting tujuannya jelas dan pasti, yaitu kantor kelurahan.

Namun begitu, saya mohon dengan teramat sangat, Anda jangan salah paham akan maksud saya. Terutama ketika perumpamaan itu berkaitan pada bidang ekonomi. Nanti Anda malah merasa ‘terinspirasi’ lalu ‘termotivasi’ untuk menghalalkan segala cara demi mencapai tujuan yang menyimpang dari kaidah-kaidah kebenaran… Waduuuh… Kalau Anda berbuat begitu berarti Anda sendiri yang telah keliru menafsirkannya… Hahahaha…

Ibarat sebuah pisau, sangat bermanfaat ketika Anda mempergunakannya di dapur. Sebagai alat pemotong bahan-bahan masakan, dan sebagainya. Tapi… manakala pisau itu Anda pergunakan sebagai alat berbuat kriminal, kejahatan untuk melukai dan menganiaya orang lain, maka gugurlah prinsip tepat-guna yang ada pada pisau tersebut.

Jadi jangan sampai begitu ya, Saudara-saudara sekalian.

Baiklah… Biar kita tidak menjadi tersesat, marilah kita kembali kepada kata sesat tadi.

Pada awamnya, kata ‘sesat’ dikenal juga dengan sebutan ‘nyasar’.
Misalkan ada seseorang yang sedang mencari alamat rumah temannya di suatu kawasan/daerah yang belum ia kenal. Lalu Anda, sebagai salah satu warga yang bertempat tinggal di kawasan itu melihatnya. Maka apa yang akan Anda lakukan…?

Apakah Anda langsung mengumpulkan semua warga, lantas berteriak-teriak “Nyasar… Kamu nyasaaarr !!”, kepada orang yang sedang nyasar itu?
Hadeeeh… Alangkah bodoh dan lebay namanya kalau Anda sampai berbuat begitu.

Sekalipun Anda, bahkan semua warga tersebut mengetahui alamat yang sedang dicari oleh orang yang sedang nyasar tadi, tetaplah suatu kebodohan apabila melakukan hal-hal yang berorientasi massa.

Tindakan yang tepat dan bijak ialah… Anda, sebagai saksi mata dari orang yang sedang nyasar, dan Anda tahu bahwa ia nyasar, dekatilah… Tanyakan alamat mana yang sedang dicari dan beritahukan bahwa ia nyasar… Begitu.
Jangan malah asyik berteriak-teriak penuh semangat atas kekeliruan orang lain. Sampaikanlah kepadanya, hal apa yang keliru.
Namun sebelumnya, Anda harus pastikan terlebih dahulu, apakah Anda keliru atau tidak.

Karena…

Hanya mereka yang tidak keliru-lah yang berhak menunjukkan kekeliruan orang lain…
Hanya mereka yang tidak nyasar-lah yang berhak memberitahu orang yang sedang nyasar…
Dan hanya mereka yang tidak sesat-lah yang berhak menganggap yang lain sesat.

Sungguh… Betapa sesatnya kata sesat.

(Hr.Ferdian, 8 Mei 2017)

Content Protection by DMCA.com