Beragama Dengan Benar
Kita belum BERAGAMA DENGAN BENAR selama hati dan jiwa ini masih belum cukup peka terhadap sekitar.

Nah lho … !!

Sebagian dari Anda mungkin ada yang ‘memberontak’ atas kalimat saya tersebut.

Ada juga yang langsung berinterupsi,
Ah, nggak betul itu… Dari mana dasarnya??”

Bahkan ada pula yang secara diam-diam, (agak nekat) bertanya kepada diri sendiri,

“Aku kan selalu beribadah dengan tekun, kok bisa-bisanya ya dibilang belum beragama dengan benar?… Kok bisa?… Kok gini, kok gitu??…”

(kok-nya kok kebanyakan?) hahaha…

Calm down, wahai para pembaca yang berbahagia… Tenanglah.
Jangan pergunakan emosi Anda terlebih dahulu.
Belajarlah membiasakan diri untuk tidak memanjakan ‘unsur api’ secara sporadis ketika berhadapan dengan suatu masalah.

Ketenangan adalah kunci untuk membuka gerbang penyelesaian dari segala hal.

Saya yakin dan percaya, setiap agama tentu mengajarkan kasih sayang. Entah itu berupa kasih sayang terhadap tetangga, teman, saudara, maupun terhadap makhluk hidup yang lainnya. Bahkan mengajarkan untuk mengasihi (memaafkan) lawan atau musuh sekalipun.

Jadi, the point is … Jangan sampai beragama dengan keliru.

Kita sibuk menyudutkan diri di tempat ibadah atau dalam kamar, sementara tetangga di sebelah rumah sedang menikmati makan malam dengan menu berupa nasi campur garam.

Kita penuh semangat, hingga berteriak-teriak, seakan-akan sedang menyuarakan kebenaran, namun pura-pura buta dengan penderitaan saudara sendiri.

Kita rajin menutup aurat diri sendiri, sedangkan aurat sesama, aurat orang lain, sengaja dibiarkan terbuka, bahkan ironisnya… justru malah kita turut ambil bagian dalam meng-ekspose, mempublikasikan, menyebarkannya.

Kenapa demikian?
Menurut pemahaman saya, aib itu juga termasuk salah satu aurat… Dan kalau boleh saya kategorikan, aib adalah aurat non-fisik.

Hal-hal semacam di atas tersebut merupakan sebagian bentuk dari beragama secara egosentris. Religius secara egois.

Oleh karena itu, ketika hati dan jiwa kita belum cukup peka terhadap sekitar;
Ketika kita belum berkasih-sayang; Apakah kita layak untuk menyandang predikat BERAGAMA DENGAN BENAR?

Mari bertanya kepada diri kita masing-masing…

(Hr.Ferdian, 21 Mei 2017)

Content Protection by DMCA.com