Seorang Pemimpin
“Kegagalan sekaligus dosa Seorang Pemimpin adalah…
Ketika yang dipimpinnya tidak mampu mencukupi kesejahteraan hidupnya.
Hal ini berlaku bagi setiap pemimpin. Siapa dan apa pun yang dipimpinnya.”
-Hr.Ferdian-

“Nah lho…!! Kok malah pemimpin yang disalahin?… Itu kan tergantung orangnya masing-masing… Kalo pengen hidup enak ya usaha dong… Kerja yang giat kek… Cari sampingan kek… Ini kek… Itu kek… kek… kek… Pokoknya kek deh!”

Komentar tersebut cenderung bermotif sebuah argumentasi pembelaan. Dengan kata lain, mereka yang berkomentar seperti itu memiliki sikap tidak mau disalahkan.

Kalau seorang pemimpin tidak mau disalahkan, itu pengecut namanya. Dan seorang pengecut tidak pantas menjadi seorang pemimpin.

Komentar yang bermotif argumentasi pembelaan di atas, sepintas memang terdengar luar biasa. Cukup masuk akal. Akan tetapi, hal-hal yang masuk akal belum tentu masuk hati, tak selalu bisa diterima dengan kalbu. Memang, percaya kepada akal itu sah-sah saja. Namun akal bukanlah satu-satunya lentera jiwa. Dan akal pun bukan salah satu lentera yang terang benderang.

Hanya akal yang berkolaborasi dengan kalbu yang bisa dijadikan penerang jiwa.

Di bawah tuntunan dan bimbingan Tuhan tentunya.😇

Tatkala kita membahas soal pemimpin maupun kepemimpinan, ternyata…
Menjadi seorang pemimpin itu teramat sangat berat. Seorang pemimpin harus bertanggung jawab atas yang dipimpinnya. Seorang pemimpin juga mesti siap disalahkan. Jika tidak mau bertanggung jawab serta tidak siap disalahkan, ya jangan menjadi pemimpin.😀😜

Kepemimpinan itu luas dan berjenjang. Mulai dari kepemimpinan terhadap diri sendiri, keluarga (rumah tangga), hingga kepemimpinan dalam suatu negara, bahkan agama.

Sejatinya, setiap manusia, terlahir sebagai seorang pemimpin. Ini berarti, bahwa kepemimpinan, adalah salah satu hal yang kodrati. Sesuatu yang sudah digariskan oleh Tuhan. Secara awam, disebut dengan istilah ‘udah dari sononya’.

Memimpin diri sendiri bukanlah perkara yang simple, sederhana. Anda harus menguasai diri sendiri. Mengendalikan dan menjadikan diri Anda sendiri sebagai bawahan. Pikiran, perkataan, dan perbuatan harus benar-benar dalam situasi dan kondisi dibawah pengendalian Anda sepenuhnya. Dan bagian yang terpenting untuk Anda kendalikan di bawah kepemimpinan Anda atas diri sendiri ialah hawa nafsu.

Ok. Kita tinggalkan soal kepemimpinan pada strata terbawah, yaitu kepemimpinan atas diri sendiri.
Sekarang, kita mulai berfokus pada kata ‘what-if‘… kata ‘bagaimana-jika’.
Let’s go…wussss…🏃🏃🏃

Dari susunan kata, kalimat, dan paragraf yang telah Anda baca sebelumnya, cobalah pahami sejenak… menjadi pemimpin bagi diri sendiri saja sudah sedemikian rumitnya. Lalu… what-if… bagaimana jika… Anda juga berperan sebagai pemimpin di luar diri Anda sendiri? Keluarga misalnya. Selain Anda bertanggung jawab atas diri sendiri, Anda pun akan bertanggung jawab atas keluarga. Maka akan semakin kompleks tugas yang diemban oleh diri Anda. Sebagai seorang pemimpin (kepala) keluarga, Anda juga berkewajiban untuk berusaha mencukupi kebutuhan dan kesejahteraan keluarga.

“Waduh (tepok jidat)… Berat juga ya?…😱”

Ya, memang berat tugas seorang pemimpin dalam keluarga.
Oleh karena itu, saya sarankan kepada Anda yang belum menjadi seorang kepala keluarga, alias masih lajang, agar sungguh-sungguh dalam mempersiapkan diri untuk mengemban tugas tersebut. Bukan hanya secara finansial (ekonomi) semata, melainkan juga kesiapan secara agama, sosial, serta fisik dan mental. Jadi ketika tiba waktunya bagi Anda melepas masa lajang, yaitu menikah, maka Anda sudah dalam kondisi stand-by untuk menempuh hidup baru, menjalani kehidupan berumah-tangga.

Menjadi pemimpin atas diri sendiri sudah. Menjadi pemimpin (kepala) keluarga juga sudah. Kemudian… ayo kita what-if lagi… bagaimana jika… Anda merupakan seorang pemimpin (pimpinan) dari suatu perusahaan. Anda seorang boss. Anda seorang direktur, atau komisaris, dan lain sebagainya. Selain Anda harus bertanggung jawab atas diri sendiri dan keluarga, Anda juga bertanggung jawab atas kesejahteraan bawahan, karyawan, pegawai, pekerja, buruh yang bekerja di perusahaan yang Anda pimpin.

Selanjutnya, what-if… bagaimana jika… Anda menjadi seorang pemimpin suatu negara, pimpinan dari suatu bangsa?

Kalau seorang pemimpin perusahaan memiliki tanggung jawab atas bawahan dan karyawannya, maka seorang pemimpin bangsa atau negara bertanggung jawab atas kesejahteraan setiap rakyat yang menjadi warga negara tersebut.

Jika Anda seorang pemimpin perusahaan, karyawan yang bekerja di perusahaan yang Anda pimpin mungkin berjumlah angka satuan. Atau mungkin berjumlah angka puluhan dan ratusan. Atau bahkan mungkin Anda adalah pimpinan dari sebuah perusahaan raksasa, jadi bawahan Anda hingga berjumlah ribuan.
Nah… Kalau Anda merupakan seorang pemimpin dari suatu bangsa atau negara, maka sudah jelaslah jumlah orang yang berada di bawah pertanggung jawaban Anda, yaitu semua orang yang menjadi warga negara yang Anda pimpin… Wow!…😨 Amazing…!!👏

Hmmm…
Dengan tugas dan tanggung jawab yang sedemikian berat sekaligus besar tersebut, masih adakah niat Anda, untuk menjadi seorang pemimpin?
Masih adakah keinginan dan ambisi Anda untuk meningkatkan strata kepemimpinan?

Bertanyalah kepada diri sendiri…
“Apakah aku pantas menjadi seorang pemimpin?”

(Hr.Ferdian, 10 April 2017)

Content Protection by DMCA.com