Antara Fakta dan Realita
Membedakan ANTARA FAKTA DAN REALITA di dalam kehidupan sehari-hari, merupakan sesuatu yang tidak bisa dipandang sebelah mata.

Anda tahu kan maksud dari istilah ‘dipandang sebelah mata’?
‘Dipandang sebelah mata’ artinya dianggap remeh, diremehkan, dianggap sepele, atau disepelekan. Bahasa yang lebih sederhananya yaitu dianggap enteng.

Kenapa dalam membedakan antara fakta dan realita tidak bisa dipandang sebelah mata?
Karena… Fakta tidak selalu realita dan realita belum tentu fakta.

Secara fakta, seseorang yang Anda lihat berkepribadian baik, realitanya belum tentu pasti baik.
Bagaimana jika ternyata, realitanya, pada kenyataannya, orang tersebut berusaha membungkus kepribadiannya yang negatif dengan chasing (mirip ponsel) yang positif? Anda pasti terkejut, bahkan mungkin sangat shock… Haha.
Demikian pula sebaliknya, seseorang yang Anda lihat buruk, jangan lantas dianggap pada kenyataannya sudah pasti buruk.

Perbedaan di ANTARA FAKTA DAN REALITA, juga berlaku dalam bidang ekonomi. Dan memang, pada bidang inilah cenderung banyak (sering) terjadinya ‘konflik’ terselubung antara fakta dan realita.

Saya berikan sebuah ilustrasi…
“Pada suatu hari, ceritanya saya berkunjung ke rumah seorang sahabat saya yang kebetulan bagian dari golongan menengah ke atas. Rumahnya besar berlantai dua (tingkat), dan berhalaman luas. Singkat kata, singkat cerita… kenapa saya berkunjung ke rumahnya?… Karena sahabat saya ini kebetulan adalah atasan saya alias boss di tempat saya bekerja beberapa tahun silam. Jadi kunjungan saya ke rumahnya dikarenakan ada sedikit urusan pekerjaan kantor.

Ketika saya tiba di sana, ternyata sahabat saya ini masih berada di luar. Saat itu hanya seorang asisten rumah tangganya (PRT) saja yang ada. Oleh karena kami sudah membuat janji, maka saya pun harus menunggu, duduk di kursi teras rumahnya.
Selang beberapa waktu kemudian, terdengar suara salam dari luar rumah.
Tepat berdiri di depan pintu gerbang, ada seseorang yang -katakanlah kita sebut sebagai pengemis- bermaksud hendak meminta derma (sumbangan/sedekah/donasi).

Karena saat bertamu ke rumah sahabat saya cuma membawa dana secukupnya, bahkan hanya pas-pasan untuk ongkos PP (pulang-pergi), maka dengan terpaksa saya pun menghampirinya di dekat gerbang, lalu memohon maaf atas ketidaksanggupan saya berbagi derma.
Setelah saya mengucapkan permohonan maaf kepada sang pengemis tadi, ia langsung terdiam, kemudian pergi sambil bergumam (ngedumel) agak pelan, “Rumah gede, orang kaya… tapi kok pelitnya kebablasan…”
Saya mendengarnya, tapi tidak sedikit pun merasa kesal atau marah. Saya cuma tersenyum sembari duduk kembali di kursi teras, menunggu sahabat saya pulang.”

… Sekian.

Eiiittss… Tunggu dulu !
Kata ‘sekian’ tadi bukanlah akhir dari tulisan saya kali ini ya… Hehe… Bukan pula akhir dari perjumpaan kita lho…
Itu hanyalah kata penutup dari kisah ilustrasinya saja.

Menelaah kisah ilustrasi di atas, sungguh tidak tepat apabila Anda menyalahkan sang pengemis yang ngedumel tersebut. Umpatan dan ngedumel-nya si pengemis terjadi berdasarkan apa yang ditangkap oleh alat inderanya, dalam hal ini kedua matanya. Apa yang dilihatnya adalah FAKTA, bahwa saya sedang duduk di teras pada sebuah rumah yang besar. Dengan didasari fakta ini, maka si pengemis pun secara spontan menyimpulkan bahwa saya adalah sang pemilik rumah, dan saya adalah orang kaya.

Kesimpulan yang muncul dari spontanitas, disebabkan oleh tingkat serta kadar kesadaran masing-masing.

Saya tidak berkata soal tingkat pendidikan, akademis, ekonomi, maupun sosial… Harap dicatat! … Tapi kesadaran.
Tinggi-rendahnya tingkat kesadaran, tidak bergantung pada hal-hal yang demikian.

Sedikit saya tambahkan…
Kata ‘kesadaran’ berasal dari kata ‘sadar’. Mungkin Anda sudah terbiasa memaknainya dengan pengertian, ‘sadar adalah tidak dalam kondisi mabuk minuman keras atau narkoba’.
Memang, pada umumnya begitulah makna dari kata ‘sadar’.

Padahal sejatinya, ada pengertian yang lebih jauh dan mendalam dari kata ‘sadar’ ini. Saya tidak perlu menjabarkan terlalu detil berapa Mil maupun Meter kejauhan dan kedalamannya… Sebab saya tidak sedang membahas soal pembuatan jalan, apalagi pengeboran sumur… Hahaha.

Cukup sampai di sini dulu mengenai kata ‘sadar’ dan ‘kesadaran’ ya… Di lain kesempatan akan saya lanjutkan lagi. Atas izin dan ridho Tuhan tentunya.

Sekarang, mari kita kembali pada kisah ilustrasi di atas tadi…
Sang pengemis mendapatkan suatu FAKTA, yaitu, saya sedang duduk di teras pada sebuah rumah yang besar. Dengan didasari fakta ini, maka ia pun secara spontan menyimpulkan bahwa saya adalah sang pemilik rumah, dan secara ‘otomatis’ saya adalah orang kaya.
Padahal bukan. Sama sekali bukan.

Di awal kisah ilustrasi kan sudah saya jelaskan, kalau saya ini hanyalah seorang tamu yang sedang berkunjung. Inilah yang disebut dengan REALITA. Kenyataan yang sebenarnya… yang riil. Dan si pengemis memang belum tahu kenyataannya bukan?… Hmmm…

Oleh karena itu, juga sudah saya katakan sebelumnya, sungguh tidak tepat apabila Anda menyalahkan sang pengemis yang ngedumel tersebut. Kenapa tidak tepat?… Karena Anda (sebagai pembaca), sudah tahu realitanya. Sedangkan si pengemis (sebagai pemeran dalam ilustrasi) hanya berpegangan pada fakta yang ada. Titik.

Ternyata, dalam membandingkan ANTARA FAKTA DAN REALITA memang gampang-gampang susah ya… Hadeeehh.

Akhir kata, ada sedikit tips dari saya nih…
Biar kata ‘susah’-nya hilang, terus tinggal kata ‘gampang’-nya yang tersisa, caranya cuma satu… Belajar.

See you next time… Bye.

(Hr.Ferdian, 23 April 2017)

Content Protection by DMCA.com