Mulai Dari Nol
Setiap kali saya maupun Anda melakukan pengisian bahan bakar (BBM) kendaraan di SPBU, akan ada seorang petugas (operator) mesin pengisian tersebut yang akan berkata, “Mulai Dari Nol, ya Pak/Bu…” kepada kita, tepat sebelum pengisian dilakukan.

Tujuannya tak lain dan tak bukan adalah untuk menginformasikan kepada kita, kepada pelanggan, bahwa panel kalkulasi pada mesin pengisian dimulai dari angka nol. Jadi, berapa pun jumlah bahan bakar yang hendak diisi akan menjadi benar secara kalkulasi, dan tepat secara angka.

Kalimat ‘Mulai Dari Nol‘ ini, ternyata berlaku juga di segala aspek dalam kehidupan.

“Ah, maksa banget nih orang… masa gituan aja disangkutin ke mana-mana… ?”

Bagi mereka yang berpikiran picik alias dangkal pasti langsung bilang begitu.

Bukannya saya berburuk sangka ya, sebab pada kenyataannya memang ada sebagian dari kita yang bertipikal seperti itu.
Tapi mudah-mudahan saya dan Anda tidak termasuk di antara mereka. ?

Mulai Dari Nol.
Nol ini termasuk salah satu angka juga sebetulnya.
Tapi… ketika angka nol berperan sebagai angka tunggal, atau dalam istilah di dunia entertainment-nya yaitu ‘bersolo karir’ ?, maka angka nol ini akan mewakili kekosongan. Menjelaskan tidak adanya apa-apa. Dengan kata lain, nol itu kosong. Nol itu no one (none).

Kemudian, bagaimana jika angka nol ini digabung dengan angka lain?

Apabila ditempatkan di depan angka yang lain, berapa pun jumlah digit dan besarnya, maka angka nol akan berfungsi sebagai bagian dari nomor urut.
Misalkan : 01, 004, 012,… .

Dan jika angka nol berada setelah angka yang lain, contohnya 10, 102, 8000, maka angka nol akan berguna untuk menyatakan besaran jumlah.

Demikianlah sedikit penjelasan (yang agak ‘berbau’ kursus Matematika) dari saya. ?

Di atas tadi, sudah saya sebutkan bahwa kalimat ‘Mulai Dari Nol‘ ini, ternyata berlaku juga di segala aspek dalam kehidupan.

Pada suatu ketika…
Ceritanya, hidup Anda ataupun karir Anda, atau mungkin juga kisah asmara Anda terpaksa harus dimulai dari nol.
Apa yang telah Anda miliki, segala sesuatu yang pernah Anda raih, menjadi habis. Persis dengan angka nol yang sedang berperan tunggal… Kosong… Zero.
Ya sudah. Sadari dan terima saja terlebih dahulu. Serta usahakan agar tidak terlalu berfokus pada kata ‘kenapa’. Cobalah lebih mengutamakan kata ‘bagaimana’.

Nah lho… !! ?
Ada apa rupanya dengan kata ‘kenapa’ dan ‘bagaimana’?

Dalam konteks ini, kata ‘kenapa’, tanpa disadari dapat memaksa alam bawah sadar (sub-concious mind) Anda untuk terikat dengan hal yang sudah terjadi, dengan masa lalu.

“Kenapa jadi begini ya?”
“Kenapa begitu?”

Kalimat-kalimat seperti ini lebih cenderung berusaha melambatkan sekaligus melemahkan daya berpikir Anda. Sehingga pada akhirnya Anda hanya akan sibuk berkutat di dalam masalah yang itu-itu saja.
Saya sarankan, kalaupun Anda mau menggunakan kata ‘kenapa’, silahkan dipergunakan setelah selesai dengan kata ‘bagaimana’.

Kebalikan dari kata ‘kenapa’, kata ‘bagaimana’ akan men-stimulasi Anda untuk berusaha memperbaiki keadaan.

“Bagaimana ya caranya untuk…?”
“Bagaimana sih supaya…?”

Kata ‘bagaimana’ akan memotivasi diri Anda untuk mulai melangkah kembali. Meski secara perlahan dan tidak instant seperti mie kemasan ?, yakinlah bahwa hidup Anda akan kembali cerah. ?

Di dalam kehidupan ini, mengalami peristiwa maupun kejadian yang memaksa kita untuk Mulai Dari Nol, itu adalah hal yang pasti.
Tergantung tinggal bagaimana caranya untuk menyikapi, agar angka nol yang berperan tunggal sebagai kekosongan, dapat berubah menjadi besaran jumlah.

Mulai Dari Nol…
lalu 1…
2…
3…
selanjutnya…
seterusnya…
unlimited….
… no limit…

(Hr.Ferdian, 12 Maret 2017)

Content Protection by DMCA.com