Mencari Bukanlah Mengejar
Mencari Bukanlah Mengejar.
Dari segi kata-per-kata pun sudah cukup jelas berbeda satu dengan yang lainnya.
Kata ‘mencari’ berasal dari kata ‘cari’.
Sedangkan kata ‘mengejar’, berasal dari kata ‘kejar’.

“Tuh kan… betul. Beda kan!” ?

Tapi jangan keliru, wahai pembaca yang berbahagia… Jangan keliru.
Tidak sedikit di antara kita yang semula… pada awalnya, bermaksud untuk melakukan pencarian, kemudian berubah menjadi pengejaran. Dan yang tadinya mencari, lalu ber-transformasi menjadi mengejar.

Pada tulisan saya sebelumnya yaitu Pencarian*… telah saya sebutkan beberapa contoh dari pencarian.
*klik pada link tersebut jika Anda belum pernah membacanya, atau ingin membacanya lagi

Contoh dari pencarian yang pertama adalah, Mencari Jodoh. Bisa juga kita sebut dengan Mencari Pasangan Hidup.

Bagi Anda yang masih single alias jomblo, inilah suatu proses yang sedang Anda lakukan saat ini.
Walaupun (mungkin) ada juga yang tidak sedang melakukannya, tapi pada umumnya iya… ??

Silahkan Anda mencari jodoh, mencari pasangan hidup. Silahkan… Tapi jangan mengejar.
Sebab, mencari itu lebih mudah ketimbang mengejar.
Anda tidak percaya??
Cobalah Anda buktikan sendiri…
(kalau saya tambahkan kata ‘khasiatnya’ pada akhir kalimat, pasti Anda kira saya sedang berjualan obat… wkwkwk ??)

Sssttt… ?
Tiba-tiba, ada sebagian dari Anda yang memberikan respon begini…
“Waduh… gimana caranya??… Kok malah disuruh buktiin sendiri sih?… hadeeeuh ?.”

Wajar…
Cukup manusiawi kalaupun Anda memberikan respon serta reaksi yang demikian.
Lagipula, saya memang harus bertanggung jawab untuk menjelaskan hal tersebut. Dan saya akan berusaha memaparkan penjelasan dengan sebuah analogi.

Begini…

“Ceritanya ada seseorang yang perutnya sedang mules. Ngebet, kebelet mau buang air besar (B-A-B).
Kalau orang ini melakukan ‘pencarian’ tempat untuk B-A-B, saat dilihatnya ada toilet … maka di situlah ia akan B-A-B.
Tapi kalau orang ini melakukan ‘pengejaran’… ‘mengejar’. Maka ia akan ‘mengharuskan’ dirinya supaya bisa B-A-B pada toilet yang sesuai dengan kriteria yang ditetapkannya sendiri. Entah mungkin itu toilet yang WC-nya duduk, bukan jongkok. Entah juga yang toiletnya ada WC dengan penyiraman bersistem flush (yang dilengkapi tombol tentunya). Bukan yang cara manual, menggunakan gayung. ? Dan lain-lain… Dan sebagainya.”

Pokoknya ada berbagai macam kriteria yang ditetapkan oleh orang yang melakukan pengejaran. Orang yang mengejar. Bukan mencari.

Saya rasa Anda cukup paham atas penjelasan saya yang berupa analogi tersebut bukan?
Seandainya belum paham… ya sudah. Tidak perlu dipaksakan. Karena pemahaman pun membutuhkan proses. Ada yang cepat, ada juga yang lambat.

Baiklah…
Saya akan lanjutkan dengan contoh pencarian selanjutnya, yaitu Mencari Nafkah. Mencari Rezeki. Atau istilah yang lebih merakyatnya ialah ‘Mencari Sesuap Nasi‘.
Sebetulnya ini adalah kewajiban yang harus dilakukan. Terutama bagi seorang kepala keluarga. Namun tidak perlu juga terlalu terobsesi. Jangan mesti begini-mesti begitu. Ingat, mencari bukanlah mengejar.

Akan tetapi, saya harap Anda jangan dulu berprasangka yang bukan-bukan… Saya ini tidak sedang berusaha untuk ‘mem-provokasi‘ Anda agar pasrah begitu saja dalam kehidupan ini, tanpa adanya effort. Tanpa adanya upaya apa pun. Tanpa ada usaha sama sekali.
(mari sama-sama kita senantiasa terus belajar agar lebih jeli dan peka untuk membedakan antara kata ‘cari’ dengan kata ‘kejar’)
Segala usaha, setiap upaya, sangat diperlukan. Jangan lupa juga untuk berdoa ya ?.

Lakukanlah proses ‘pencarian’, namun jangan sampai menjadi suatu ‘pengejaran’.

Mencari Bukanlah Mengejar.

Mengejar, lebih identik dengan berlari, daripada berjalan.
Dan berlari… akan membuat kita cepat kelelahan.

Selamat mencari… ?

(Hr.Ferdian, 6 Maret 2017)

Content Protection by DMCA.com