Bukan Pada Televisi Anda
Masalahnya BUKAN PADA TELEVISI ANDA, stasiun pemancar kami sedang mengalami gangguan teknis.

Hehe…
Anda masih ingat kan dengan susunan kata-kata di atas?

Kalau Anda adalah generasi yang hobby menonton televisi di era 90-an, pasti Anda cukup akrab dengan kalimat yang demikian.
Di saat Anda lagi asyik menonton, tiba-tiba hilang sinyal televisinya… hadeeeh.

“Terus…?”
“Lalu…?”
“Kemudian…?”
“Lantas… hubungannya apa dengan tulisan saya kali ini? …  Hayoo??”

“Ehem, ehem…”
(saya pun berdehem sambil batuk-batuk unyu, alias imut, alias kecil… hihihi).

Sabar.
Mari sama-sama kita relaksasi (santai) terlebih dahulu sambil mengatur mekanisme nafas.
Tenang. Jangan terburu-buru.

Di dalam kehidupan ini, kita pernah (bahkan sering) bersikap prematur terhadap orang lain. Entah bersikap lewat ucapan, maupun perbuatan. Dan kata prematur yang saya maksudkan di sini bukan dalam pengertian medis, melainkan guna memperjelas hal yang belum tiba waktunya.

Ketika indera kita menerima sesuatu, langsung kita mempercayainya begitu saja. Kemudian bersikap sedemikian rupa, tanpa melalui proses filtrasi. Tanpa disaring terlebih dahulu.

Penting untuk diketahui bahwa, apa yang ada di dalam tempurung kepala ini, yaitu otak, diciptakan Tuhan untuk melakukan proses tersebut. Otak adalah salah satu dari ketiga ‘stasiun’ pemancar dalam diri kita.
(baca terus kalau mau tahu ‘stasiun’ yang lainnya)

Melihat orang yang tidak pernah beribadah, tidak pernah melangkahkan kaki ke tempat-tempat ibadah, lantas kita anggap orang tersebut jahat. ‘Berlumur dosa’, dan lain sebagainya;

Di dekat kita ada orang yang ber-tatto, terus kita langsung curiga, was-was, jangan-jangan orang ini maling, kriminal.

Padahal ada juga lho, maling yang tidak ber-tatto sama sekali…
Bahkan maling pun ada yang rapi, wangi, berseragam dan berdasi. Rambut disisir klimis, serta bersepatu licin mengkilap.

Saya tidak perlu menyebutkan siapa dan berapa jumlahnya, tetapi intinya… ada… maling yang model begitu.

Sebegitu banyaknya misal dan contoh hal-hal yang menunjukkan betapa prematur nya kita dalam bersikap terhadap orang lain.

Ibarat televisi (TV), ucapan dan sikap kita ini adalah pesawatnya, alatnya, medianya. Sementara stasiun pemancarnya ada 3 unit.

Unit pertama adalah stasiun pemancar atas, yaitu otak, akal pikiran.
Unit yang kedua adalah stasiun pemancar tengah, yaitu hati, kalbu.
Dan stasiun pemancar yang terakhir, yang ketiga, yaitu nafsu.

Tingkat kekuatan sinyal dari ketiga stasiun pemancar pribadi yang kita miliki tersebut, bergantung pada tingkat kesadaran kita sendiri.

Kalau stasiun pemancar bawah, alias nafsu lebih dominan, lebih fullbar sinyalnya (ibarat ponsel)… maka ini mengindikasikan bahwa tingkat kesadaran kita masih seputar urusan nafsu semata.
Sekalipun kita sudah bergelar akademis hingga ‘tiga gerbong’ panjangnya. Atau mungkin sudah merasa taat dan rajin luar biasa dalam beragama. Kesimpulan akhirnya ialah tingkat kesadaran. Titik.

Bukankah ilmu-ilmu akademis dan segala ibadah beragama yang kita lakukan bertujuan untuk proses peningkatan kesadaran?

Sekali-kali, perlu kita berkontemplasi, bertafakkur, merenung. Bukan cuma merenungkan nasib kita. Akan tetapi merenungkan jati diri ini.

Penting untuk diingat baik-baik… usahakan jangan terburu-buru dalam menghakimi, memvonis orang lain.

Utamakanlah untuk menghakimi diri kita terlebih dahulu, sebelum menghakimi orang lain.

Dan jadilah seorang hakim yang adil.

(Hr.Ferdian, 4 Februari 2017)

Content Protection by DMCA.com