Semua Akan Indah Pada WaktuNya
SEMUA AKAN INDAH PADA WAKTUNYA.
Ungkapan ini, pernah dan bahkan sudah sering kita dengar. Sebuah kalimat yang bisa menjadi pelipur saat lara, penghibur di kala susah, sekaligus mampu dijadikan sebagai motivator sewaktu hati dan jiwa kita tengah dilanda kecewa, pesimis, cemas akan hal-hal yang biasanya serba duniawi.

Ya, semua akan indah pada waktunya.
Betul dan tepat sekali.

Tapi tunggu sebentar… !!

Mohon izinkan saya untuk sedikit memodifikasi* redaksi kalimat tersebut menjadi seperti ini…
Semua akan indah pada waktuNya.”
*sengaja saya gunakan kata ‘modifikasi‘ biar agak keren saat dibaca.

Semua akan indah pada waktuNya.

Pada waktu siapa?
Waktu saya? … Bukan.
Atau pada waktu anda? … Bukan juga.
Lho… jadi pada waktu siapa ya??…

Perhatikan…
Lihatlah pada metode penulisan. Kata ‘nya’ saya tuliskan dengan huruf N kapital. Sehingga menjadi ‘Nya’.

Kalau anda mau mengingat kembali pelajaran Bahasa Indonesia, kata ‘nya’ adalah kata ganti pihak ketiga tunggal. Kata ganti dari kata ‘dia’ atau ‘ia’.

Karena kata tersebut diawali dengan huruf kapital, maka sudah tentu yang dimaksud adalah Tuhan.

Baiklah.
Akan saya tuliskan kembali…

Semua akan indah pada waktuNya.

Pada waktuNya…
Pada waktu Dia…
Pada waktu Tuhan…

Bukan pada waktu kita.
Tetapi waktu Dia.

Kita sering merasa bahwa setiap hal yang terjadi dalam kehidupan ini berdasarkan waktu kita. Sehingga ketika setiap hal yang diinginkan dan direncanakan tak kunjung terjadi, kita pun langsung berinterupsi…
“Kok lama ya?” …
“Kok belum juga sih?” …
“Padahal aku sudah berusaha sampai maksimal, tapi kok??” …
“Kok begini ya?” …
“Kok begitu??” …
“Kok…?” … “Kok…??!!” …
Gubrakk !!
(dampak kebanyakan ‘kok’)

Sudahlah.

Jangan terlalu sering atau banyak berinterupsi dalam menjalani kehidupan ini. Karena kehidupan merupakan suatu proses.

Di dalam suatu rapat atau sidang saja, jika terlalu banyak yang berinterupsi, akan mengakibatkan waktunya menjadi semakin lama untuk selesai. Apalagi sering berinterupsi dalam menjalani kehidupan.

Namun demikian, perlu saya klarifikasi sebelumnya, bukan berarti bahwa berinterupsi itu tidak diperlukan. Bukan…

Berinterupsi itu diperlukan, sebagai salah satu bagian dari interaksi.
Silahkan anda berinterupsi… silahkan. Tapi tolong diusahakan agar berinterupsi hanya demi perbaikan. Bukan keluhan.

Lakukanlah setiap hal dengan maksimal, semampu kemanusiaan kita, kemudian serahkan dan pasrahkan kepadaNya.

Bersabar hingga tiba waktuNya.
Percayalah…
Semua akan indah pada waktuNya.

(Hr.Ferdian, 5 Januari 2017)

Content Protection by DMCA.com