jatuh
“Ayah, kenapa kita harus mengalami jatuh?”, tanya seorang anak kepada Ayahnya.
“Agar kita tahu, bagaimana caranya untuk bangun, Nak.”, jawab Sang Ayah.

Demikianlah sedikit kutipan dialog yang masih saya ingat dari salah satu film trilogi Hollywood yang berjudul “Batman Begins” beberapa tahun lalu.

Anak tersebut adalah seorang tokoh yang bernama Bruce Wayne. Sewaktu kecil, ia pernah terjatuh ke dalam lubang, yang di dalamnya bersarang banyak Kelelawar. Kemudian, sang Ayahlah yang menyelamatkannya. Setelah diselamatkan, sambil digendong oleh Ayahnya, terjadilah dialog tersebut.

Sedikit intermezzo
Bruce Wayne ini adalah tokoh human version, versi manusia biasa dari superhero (pahlawan super) yang selama ini kita kenal dengan nama Batman. Kalau dalam cerita tokoh Superman, Bruce Wayne ini adalah Clark Kent-nya. Atau kalau dalam cerita tokoh Spiderman (Si Manusia Laba-laba), Bruce Wayne adalah Peter Parker-nya.

Kembali ke laptop…
ups, sorry… maksud saya, kembali kepada kutipan dialog pembuka di atas… 🙂

Bruce Wayne memang jatuh dalam pengertian harfiah. Maksudnya, jatuh secara fisik. Begitu juga dengan pertanyaan yang ia ajukan kepada sang Ayah. Pertanyaan yang sangat childish. Istilah awamnya sangat ‘anak kecil banget’.

Namun yang menarik adalah, kalimat jawaban dari sang Ayah. Simple, sederhana, tapi bermuatan pesan moral sekaligus sangat filosofis.

Ada sesuatu yang dibisikkan dari yang diucapkan. Ada yang tersirat dari yang tersurat.

Ya. Sang Ayah betul.
Semua orang tentu pernah mengalami dan merasakan ‘jatuh’ di dalam kehidupannya. Walaupun jatuhnya itu berbeda-beda, entah secara finansial, terpuruk dalam ekonomi, karir, maupun kecewa karena urusan asmara, dan lain-lain, dan sebagainya.

Ketika berada di tengah kondisi jatuh tersebut, kita sering bertanya kepada diri sendiri ataupun kepada Tuhan,…
“Kenapa jadi seperti ini?”
“Mengapa begini, Ya Tuhan?”
Kita lupa akan esensi maksud dari jatuhnya itu sendiri, yaitu proses pembelajaran.

Padahal kalau kita mau berintrospeksi, merenung sejenak…
Selain (biasanya) akibat dari ulah diri kita sendiri, terjadinya jatuh itu, juga merupakan cara Yang Maha Kuasa untuk membuat kita bangun. Membuat kita bangkit. Membuat jiwa kita tetap bersemangat untuk terus belajar dan berlatih, agar senantiasa survive, terus bertahan menjalani proses kehidupan ini.

Saya yakin dan percaya, Tuhan bukan bertujuan untuk menghukum secara keras diri kita ini, ibarat para tahanan penjara di zaman klasik.

Dia Sang Maha Pengasih, Maha Penyayang, Maha Pengampun. Marilah kita berusaha untuk tidak berburuk sangka kepadaNya.

Seperti kalimat Ayahnya Bruce Wayne di dalam kutipan dialog yang saya jadikan pembuka tulisan saya ini…
Kenapa ya, kita harus merasakan jatuh?…
“Agar kita tahu, bagaimana caranya untuk bangun.”

(Hr.Ferdian, 12 Januari 2017)

Content Protection by DMCA.com