Homo Homini Lupus
Ketika pertama kali membaca judul tulisan saya ini… HOMO HOMINI LUPUS …mungkin sebagian dari Anda akan mengira bahwa saya akan menulis tentang sesuatu hal yang sangat awam, yang di dalamnya terdapat salah satu kata dari kalimat tersebut.

hmmm…

Mungkin saja ada yang beranggapan seperti itu. Namun, kemungkinan di sisi yang lain, ada juga yang sudah tahu dan mengerti maksud dari istilah Homo Homini Lupus.

Bagi Anda yang sama sekali belum pernah mendengar atau bahkan tidak tahu istilah Homo Homini Lupus, saya sarankan terlebih dahulu untuk melakukan searching di Google, dengan cara mengetikkan keyword (kata kunci) ‘homo homini lupus adalah‘, tanpa tanda kutip. Agar jangan sampai Anda salah paham dengan tulisan saya ini.

Homo Homini Lupus.
Lupus est Homo Homini, dalam bahasa Latin.
Manusia adalah serigala bagi sesama manusianya‘.

Istilah ini pertama kali dicetuskan dalam karya Plautus yang berjudul Asinaria, pada tahun 195 SM (Sebelum Masehi).
* sumber : Wikipedia

Biar terdengar agak dramatis, akan saya ubah sedikit redaksi kalimatnya, menjadi…
Manusia adalah ‘pemangsa’, predator bagi manusia yang lainnya.

Sangar, kejam, sadis, sekaligus buas !

Kenapa bisa, manusia yang notabene memiliki sifat manusiawi, menjadi pemangsa bagi manusia lainnya?

Secara fakta atau de facto, seiring dengan pesatnya perkembangan dan kemajuan zaman, justru demikianlah yang terjadi.

Demi uang, harta, jabatan, dan segala hal yang serba duniawi, manusia dapat dengan tega, ‘memangsa’, ‘mengorbankan’ satu sama lain. Demi hal-hal yang fana, alias sementara, dapat menjadi predator sesamanya.

Lupa akan fitrahnya. Lalai akan tugasnya sebagai khalifah Tuhan di bumi. Sebagai ‘pengganti’-Nya.

Kalau manusia berpredikat sebagai khalifah di bumi, sebagai ‘pengganti’ Tuhan, semestinya saling berkasih sayang, berlaku adil, dan sebagainya. Bukankah Tuhan itu Maha Pengasih, Maha Penyayang, dan Maha Adil?

Mereka yang berkarakter, berpola pikir, dan bertingkah laku ala predator di atas, mungkin akibat dari kekeliruan dalam mengaplikasikan kalimat ‘hidup itu cuma sekali’, atau juga kalimat ‘hidup ini singkat’. Seperti yang pernah saya bahas pada tulisan saya terdahulu yaitu…

(klik pada kotak preview di atas untuk membaca selengkapnya)

Alangkah bijaknya, jika Anda dan saya masih bersemangat untuk terus belajar. Terutama belajar untuk kembali kepada fitrah kita semua sebagai manusia. Sebagai khalifah-Nya di bumi ini.

“Lho… kok belajar lagi??”
“Aku kan sudah lulus sekolah. Sudah diwisuda. Sudah bergelar ini dan itu… Kok harus belajar lagi??”

Tuh kan… sebagian dari Anda pasti ada yang langsung berpendapat seperti itu.

Begini… biar tidak berpanjang-kali-lebar mengenai urusan belajar, saya sarankan Anda untuk membaca tulisan saya di bawah ini…

(klik pada kotak preview untuk membaca selengkapnya)

Semoga Anda dapat berjumpa dengan ‘kunci jawaban’ atas pertanyaan… ‘kenapa Anda dan saya masih harus terus belajar?’

Semoga…

(Hr.Ferdian, 23 Desember 2016)

Content Protection by DMCA.com